Kamis, 27 Mei 2010

Terapi Berkuda Bagi Anak Autis

Dengan berkuda, anak belajar menjalin relasi.

Pagi itu udara Lembang sangat sejuk ketika Pricilla Armelita (11 tahun) dan Patricia Melvina Saputra (11), tengah asyik berkuda. Mereka tampak terbiasa mengikuti irama gerak kuda. Tidak seperti anak-anak pada umumnya, si kembar paling sedikit tiga kali dalam seminggu berkuda.

Ifen, ibunya, selalu rutin membawa Pricilla dan Partricia ke tempat wisata berkuda DeRanch Lembang, Kabupaten Bandung Jawa Barat. Bukan sekadar untuk bermain atau berwisata, mereka menjalani terapi autis dengan menunggang kuda. "Anak saya sulit berkomunikasi dan selalu tertutup," kata Ifen, Kamis (28/1).

Autisme adalah suatu gangguan neurobiologis yang memengaruhi fungsi otak. Akibatnya, anak tak mampu berinteraksi dengan dunia luar secara efektif. Mereka seolah sibuk dengan dunianya sendiri.Menghadapi kondisi seperti itii, Ifen hampir putus asa untuk menyembuhkan kedua anaknya. Berbagai macam terapi dan pengobatan telah dicoba. Biaya yang telah dikeluarkan juga tidak sedikit, namun ia belum melihat perubahan yang berarti.

Hingga akhirnya, setahun yang lalu, sarjana psikologi sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung ini membawa Pricilla dan Patricia untuk belajar berkuda. Tanpa sengaja, Ifen bertemu dengan Billy Mamolo, seorang instruktur berkuda yang juga salah seorang pemilik DeRanch.

Berlatih konsentrasi

Oleh Billy, Pricilla dan Patricia dilatih cara menunggang kuda yang benar. Mulai dari cara menaiki kuda, memegang pelana, hingga mengendalikan kuda. Billy semakin intensif mendidik keduanya ketika mereka memasuki liburan sekolah. Hampir setiap hari Pricilla dan Patricia datang untuk menunggang kuda.

Tidak hanya sekadar berkeliling pedok (areal khusus), Billy juga mengajak Pricilla dan Patricia riding out (berkuda keluar) ke hutan yang banyak ditumbuhi pohon Pinus di sekitar Tangkuban Perahu. Pohon pinus mengeluarkan ion yang positif," kata Billy.

Setelah dua bulan, Billy melatih Pricilla dan Patricia teknik menunggang kuda yang benar, ter-nyata ada perubahan positif yang terjadi pada kedua anak tersebut. "Anak saya mulai bisa diajak berkomunikasi dan sudah mau menceritakan tentang pengalamannya kepada saya," ujar Ifen.

Sejak saat itu, Ifen memutuskan meneruskan terapi berkuda kepada kedua putrinya. Billy pun mulai tekun untuk mengembangkan terapi autis melalui berkuda secara otodidak, melakukan riset kecil-kecilan, dan mengikuti seminar tentang manfaat berkuda ke beberapa negara. Akhirnya, ia menemukan metode terapi autis dengan berkuda yang baku.

Kini sudah puluhan anak autis yang ditangani oleh Billy."Ternyata benar kalau Nabi Muhammad menganjurkan kita untuk belajar berkuda," kata Billy.Dengan menunggang kuda, anak autis dilatih konsentrasi, keseimbangan, perasaan, kepekaan, dan emosi. Karena, kata Billy, selain membutuhkan konsentrasi dan keseimbangan, memperlakukan kuda agar mau menurut dengan penunggangnya dibutuhkan perasaan dan pengendalian emosi.

Berbeda dengan manusia, Billy menjelaskan, kuda tidak bisa dibayar dengan uang agar dia mau mengikuti perintah. "Kuda harus diperlakukan dengan kasih," tambahnya. Hal ini yang kemudian dapat mengurangi kesulitan anak autis dalam menjalin hubungan sosial.

Jam terbang

Billy menengarai, dampak positif berkuda bagi anak autis terasa setelah 40 jam menunggang kuda. Jam terbang sebanyak itu bisa diperoleh dengan menunggang kuda minimal seminggu sekali selama satu jam. "Tentunya harus berkelanjutan."

Bila sudah cukup mahir berkuda dan jam terbangnya telah terpenuhi, kepekaan anak mulai dilatih. Caranya, menunggang kuda ke hutan yang ditumbuhi pohon pinus. Dengan medan berkuda yang lebih sulit, kata Billy, tentunya si anak juga harus peka dengan kemauan si kuda ketika menghadapi rintangan di depannya.

"Jadi si anak harus peka dengan kemauan si kuda. Kalau sudah begitu tidak mungkin menuruti dirinya sendiri, sehingga dia mau tenggang rasa dengan orang lain," tutur Billy.Untuk melatih kepekaan dengan cara penanganan seperti itu, dibutuhkan waktu selama 20 jam menunggang kuda. Billy menyakini, selama proses belajar berkuda, akan ada perubahan sikap yang positif bagi penyandang autis, seperti yang terjadi pada Pricilla dan Patricia.

Tidak ada batasan usia untuk mengikuti terapi ini. "Ini juga berlaku untuk anak normal," tambah Billy.Menurut Billy, terapi seperti ini bisa dipraktikkan oleh siapa saja, sepanjang instrukturnya mengerti betul tentang berkuda dan si penyandang autis tidak merasa terpaksa. Ia rela berbagi dengan siapa saja yang ingin mempelajari metode terapi seperti ini.

Billy mengaku tidak memasang tarif khusus untuk mendidik anak autis. Di DeRanch Lembang dikenakan tarif Rp 5 ribu untuk sekali masuk. Untuk menunggang kuda selama satu kali putaran mengelilingi pedok dikenakan tarif Rp 15 ribu. Sedangkan untuk paket fun riding bertarif Rp 100 ribu per jam dan paket riding out Rp 150 perjam. Semua aktivitas berkuda dilakukan dalam pengawasan instruktur.

Saat ini, DeRanch Lembang tengah menyiapkan paket khusus untuk penanganan anak autis. Selama ini, kata Billy, memang belum tersedia paket berkuda untuk anak autis. Sehingga, orang tua penyandang autis membawa anaknya sesuai dengan keinginannya masing-masing. "Kapan saja mereka bisa datang membawa anaknya."

Hanya saja, kata Billy, terkadang justru orang tua yang tidak rajin mengantarkan anaknya sehingga hasilnya tidak maksimal. Selain itu, sering kali orang tua tidak sabar melihat perkembangan anak. Mereka ingin hasil instan, anak cepat berubah, sementara jam terbang berkudanya tidak terpenuhi. "Terapi seperti ini butuh waktu, kesabaran, dan dukungan orang tua," ujar Billy

Bagi Billy, uang bukan segalanya. Untuk mengamalkan ilmunya, ia mengaku bersedia tidak dibayar untuk menerapi penyandang autis yang berasal dari keluarga tak mampu. "Silakan datang saja. Kita akan menerima dengan tangan terbuka," katanya.Rencananya, Billy akan membangun sebuah asrama khusus untuk-anak autis yang tengah mengikuti terapi. Hal ini dimaksudkan agar terapi bisa dilakukan secara lebih intensif. ci4

sumber: http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/259-terapi-berkuda-bagi-anak-autis

Psikotes Bagi Anak Autis

Sumber : Buletin Berita Mandiga, No. 3 / September 2002

Pada anak autis, menjalani prosedur psikotes standar yang biasanya dilakukan biro-biro konsultasi psikologi umumnya sulit dilakukan. Anak autis sulit memusatkan konsentrasi, memahami instruksi tes, mempergunakan waktu tes secara efisien dan berperilaku ‘pas’ pada saat proses pelaksanaan tes. Padahal sering sekolah tertentu mempersyaratkan kasil Psikotes anak, atau mungkin orang tua ingin mengetahui kapasitas intelegensi yang dimiliki anaknya. Untuk mengetahui masalah tersebut, kami akan bahas lebih jauh seputar topik tersebut.

Secara umum intelegensi didefinisikan sebagai : Kapasitas seseorang untuk bertindak secara terencana, berfikir rasional dan berhubungan secara efektif dengan lingkungannya.

Intelegensi diukur dengan alat bantu psikotes dengan hasil akhir satuan yang populer disebut IQ (Inteligence Quotient). Komposisi IQ terdiri dari beberapa aspek yang dikelompokkan dalam 2 golongan besar yaitu :

  • IQ Verbal
  • IQ Non Verbal

Tes yang secara komprehensif mengukur IQ anak dan umumnya digunakan di Indonesia adalah :

  • Wechsler Inteligence Scale for Childern (WISC) atau
  • Wechsler Preschool & Primary Scales of Inteligence (WPPSI)

Bagi anak autis yang umumnya mengalami gangguan dalam perkembangan bahasa, sudah pasti hasil IQ verbalnya rendah. Sangatlah tidak adil bila mereka secara dini kemudian divonis keterbelakangan mental / mentally reterded.

Kendala lainnya, psikotes pada umumnya menuntut anak mengerjakan soal dalam waktu yang terbatas (time limit). Padahal seperti kita ketahui bersama, anak autis sangat sulit untuk memusatkan konsentrasi, sehingga perlu waktu lebih untuk mengarahkan perhatiannya.

Jadi bila inteligensi anak autis diukur dengan menggunakan tes ini, hasilnya sudah dapat dipastikan tidak mencerminkan potensi anak yang sesungguhnya. Lalu bagaimana cara pemecahannya? Pilihlah tes yang mengukur aspek-aspek kecerdasan secara terpisah, dimana salah satu tes yang tepat adalah pengukuran inteligensi non Verbal.

Pengertian Inteligensi Non Verbal : Sesuai dengan kata ‘non verbal’ berarti tidak dipengaruhi ‘bahasa’

Adapun definisi Inteligensi non verbal adalah sebagai berikut :

Kemampuan yang tidak berhubungan dengan bahasa, yang meningkatkan kapasitas seseorang untuk berfungsi secara terencana, efektif dan rasional.

Individu dengan Inteligensi Non Verbal tinggi biasanya berhasil di bidang matematika, geometri, engineering, mekanika, seni dan musik.

Inteligensi non verbal dibedakan atas 2 strata kemampuan, yaitu :

  • LOW ORDER SKILLS

Keterampilan yang berhubungan dengan proses menginterpretasi, mengorganisir dan memanipulasi ciri-ciri non simbolik dan konkrit dari stimulus (seperti misalnya ukuran, warna, bentuk, tekstur).

  • HIGH ORDER SKILLS

Lebih bersifat pemecahan masalah, penalaran, bersifat abstrak.

Untuk mengukur Inteligensi non verbal digunakan psikotes khusus non verbal. Untuk meminimalkan peran dari bahasa, tes ini dirancang sedemikian rupa sehingga soal dibuat tanpa menggunakan ‘kata’, melainkan dalam bentuk ‘presentasi visual/gambar’. Instruksi test maupun respon yang diminta juga non verbal (isyarat, manipulasi benda, menggambar, menunjuk jawaban).

Kemampuan yang dapat diukur dengan Test Inteligensi Non Verbal, antara lain :

  • Discrimination

Diukur dengan meminta anak menetapkan gambar / kata yang berbeda, misalnya mana yang berbeda gajah – kuda – monyet – truk.

  • Generalisasi

Menemukan kata yang memiliki kesamaan dalam hal-hal tertentu dengan stimulus, misalnya : mana yang serupa dengan pohon : mobil – manusia – berjalan.

  • Motor behavior

Berkaitan dengan gerakan, baik motorik halus atau motorik kasar, misalnya : manipulasi blok, copy design.

  • Berfikir induksi

Menemukan aturan / pola pada stimulus, misalnya mengapa benda tertentu dapat ditarik magnet?

  • Comprehension

Pemahaman yang melibatkan kaidah umum.

  • Sequencing

Kemampuan melihat hubungan yang progresif dari serangkaian stimulus.

  • Detail recognition

Kemampuan melihat detail stimulus, biasanya dengan melihat atau membuat gambar.

  • Analogi

Berkaitan dengan diskriminasi, generalisasi, pengetahuan umum dan kosakata.

  • Abstract Reasoning

Kemampuan memecahkan masalah yang menuntut kemampuan induksi dan abstraksi.

  • Memory

Kemampuan mengingat / daya ingat.

  • Pattern Completing

Mengidentifikasi bagian yang hilang dari gambar, pola, matriks.

  • General Information

Kemampuan dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan faktual.

  • Vocabulary

Arti dari kata.

CTONI (Comprehensive Test of Nonverbal Intelligence)


Tes ini terdiri dari 6 subtest yang berbeda tetapi saling berhubungan dalam mengukur kemampuan inteligensi non verbal. Secara empiris test ini telah teruji reabilitas maupun validitasnya (sampel yang digunakan 2901 orang dari 30 negara bagian) dan dirancang untuk anak usia 6 tahun sampai dewasa.

CTONI merupakan tes non verbal yang mengukur High Order Cognitive Ability :

  • Problem solving
  • Reasoning
  • Abstract thinking

Kemampuan yang diukur adalah :

  • Penalaran logis
  • Klasifikasi kategori dan
  • Panalaran urutan

Adapun presentasi soal berupa :

  • Gambar benda yang familiar dalam kehidupan sehari-hari
  • Gambar desain geometris

Hasil akhir dari tes ini berupa indeks

  • Inteligensi non verbal (keseluruhan)
  • Inteligensi non verbal gambar
  • Inteligensi non verbal geometris

Hasil akhir dari NIQ digolongkan sebagai berikut :

  • 131 – 165 Sangat superior
  • 121 – 130 Superior
  • 111 – 120 Di atas rata-rata
  • 90 – 110 Rata-rata
  • 80 – 89 Di bawah rata-rata
  • 70 – 79 Rendah
  • 35 – 69 Sangat rendah

NIQ tinggi berarti individu memiliki kemampuan yang baik dalam :

  • Melihat hubungan perceptual, logis dan abstrak
  • Penalaran tanpa kata-kata
  • Memecahkan teka-teki mental yang melibatkan elemen progresif
  • Membentuk asosiasi yang berarti antar obyek dan antar disain geometris.

NIQ rendah berarti kesulitan dalam :

  • Menangani informasi non verbal
  • Menerima data visual
  • Mengorganisir materi-materi yang melibatkan ruang / spasial.
  • Memahami aspek abstrak dari simbol-simbol visual.

PNIQ (pictorial NIQ) adalah indeks dari pemecahan masalah dan penalaran dimana gambar-gambar obyek yang dikenal digunakan dalam tes. Karena gambar-gambar tersebut memiliki naka, maka kemungkinan individu akan menggunakan kata-kata (berbicara/berpikir dalam bentuk kata-kata) ketika melaksanakan tes. Jadi ada pengaruh dari kemampuan verbal individu.

GNIQ (Geometric NIQ) adalah indeks dari pemecahan masalah dan penalaran dimana desain-desain yang tidak dikenal digunakan dalam tes. Karena itu merupakan kemampuan non verbal yang murni. Pada umumnya PNIQ dan GNIQ berada di taraf yang sama, kemungkinan disebabkan oleh aspek kemampuan bahasa (PNIQ > GNIQ).

Penutup :

CTONI dapat menjadi alternative bagi orang tua untuk mengevaluasi kecerdasan anaknya.

Sebagai alat tes non verbal kelebihan CTONI adalah :

  • Non Language Tes : bersifat lebih universal, peran bahasa dieliminir seminimal mungkin.
  • Mengukur High Order Skills : kemampuan penalaran lebih tingi.
  • Work Limit : bukan time limit, jadi kecepatan kerja anak tidak mempengaruhi hasil.

Untuk informasi lebih lanjut seputar tes CTONI, anda dapat menghubungi : MandigaDengan Ibu UniTelp. (021) 7220153 Sumber bacaan : Examiner’s manual CTONI (Comprehensive Test of Non Verbal Intellegense), Donald D. Hammil, Nils A Pearson dan J. Lee Wiederholt, 1997, Pro-ed, Incl, Texas.


sumber: http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/104-psikotes-bagi-anak-autis

Menanti Bom Waktu Autisme

Melly Budhiman; Sosok dan Kiprahnya
Melly Budiman Jakarta,- Pada 2 April dunia memperingati hari autisme. Satu peringatan yang penting untuk dunia kesehatan. Melly Budhiman, Ketua Yayasan Autisme Indonesia (YAI), mengatakan autisme kini sudah menjadi pandemi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak dirinya berpraktek sebagai psikiater dari 1976 sampai 1980-an, pasien autisme yang datang ke dirinya hanya tiga sampai lima per tahun. Sekarang, tiga pasien baru per hari, itu pun karena dirinya membatasi menerima pasien. Kalau tidak membatasinya mungkin pasien baru lebih banyak. Bayangkan, dari tiga per tahun sampai tiga per hari hanya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Menurut Melly, autisme di Indonesia kurang mendapat perhatian. Padahal sekali terdiagnosa sebagai anak autisme maka untuk keluar dari gejala itu butuh waktu bertahun-tahun dan biayanya sangat mahal. Ini seperti bom waktu yang mau meledak. Makin banyak, makin banyak, makin banyak dan akhirnya kita akan kehilangan generasi mendatang karena anak autisme dari lapisan masyarakat bawah tidak mendapat penanganan yang baik. Berikut wawancara Faisol Riza dengan Melly Budhiman.

Data yang muncul di beberapa media menyebutkan bahwa pada tahun 1987 rasio jumlah orang dengan autisme adalah 1: 5.000. Pada tahun 2007 di AS menurut laporan Center for Disease Control memiliki rasio autisme 1:150 (di antara 150 anak, ada satu anak autisme). Sementara di Inggris sendiri disebutkan rasionya yaitu 1:100. Dari data yang sudah muncul di beberapa media terlihat semakin lama semakin tinggi orang dengan autisme. Apa itu autisme?

Autisme bukan penyakit jadi jangan disebut penderita atau penyandang karena memang disandang seumur hidup. Autisme adalah suatu gangguan perkembangan. Bedanya dengan penyakit adalah kalau penyakit ada virusnya, ada kumannya, ada jamurnya. Sedangkan autisme tidak ada. Jadi tidak ada obatnya juga.
Berapa lama usia seorang anak bisa diobservasi tapi di atas usia tertentu sudah bisa bebas autisme?

Oh, tidak ada peramal yang bisa meramalkan kapan dia akan bebas. Pokoknya, yang satu cepat sembuh dalam tanda kutip, yang satu tidak sembuh-sembuh sampai besar. Jadi variatif, setiap kasus itu unik, tidak bisa kita mengeneralisasi. Sering orang tua bertanya, “Bu dokter, berapa tahun lagi kira-kira sembuhnya?” Loh, mana tahu, kita bukan peramal.


Apakah terapi anak autisme bisa dilakukan oleh keluarga juga?

Kalau keluarganya mau melakukan terapi bisa juga. Dalam hal ini sebetulnya anak juga mengerti. Kalau di terapi center, dia menurut dengan gurunya. Namun saat terapi dilakukan oleh orang tuanya di rumah, dia sama sekali tidak mau seperti mengerti siapa yang harus dituruti. Jadi orang tua kesulitan kecuali sangat tegas, sangat konsisten dalam disiplin sehingga anak menjadi menurut. Saya mempunyai teman yang anaknya autisme. Lalu dia mengatakan, “Sewaktu kecil, kayaknya tuh saya juga begini”. Ditanya, “Kok bisa dan sekarang sudah jadi sarjana?” Dijawab, “Ya, ayah saya itu tentara jadi tidak mentolelir perilaku yang aneh-aneh. Saya ditampar dan saya takut, gak berani berperilaku begitu”. Sembuh tuh. Tapi saya tidak menganjurkan supaya menampari anak.


Mengenai Yayasan Autisme Indonesia (YAI), yayasan ini secara serius menangani dan mengobservasi kasus autisme di Indonesia. Apa harapan Anda sebagai ketua yayasan terhadap pemerintah dalam kasus ini?

Sekali terdiagnosa sebagai anak autisme maka untuk keluar dari gejala itu butuh waktu bertahun-tahun dan biayanya sangat mahal. Segala jenis terapi yang saya sebutkan tadi mahal dan biayanya dihitung per jam, misalnya Rp 50.000 per jam. Apakah biaya itu bisa terjangkau sama orang lapisan bawah? Jadi yang saya harapkan pemerintah mendirikan sekolah-sekolah gratis dengan terapis yang dilatih dan terapisnya gratis. Jadi untuk golongan yang sangat-sangat bawah bisa membawa anaknya terapi. Mana mungkin dan darimana uangnya kalau gajinya Rp 400.0000 sebulan disuruh bayar terapi sejamnya Rp 50.000. Kemudian vitamin dan obatnya juga mahal sekali, kalau sakit juga membutuhkan dokter, dan sebagainya. Kami mengharapkan kita mempunyai autisme center, diagnosis center, teraphist center, information center, research center. Kalau itu semua diongkosi oleh pemerintah, wah senang sekali.


Ini mungkin pemerintah sekarang sedang sibuk dengan flu burung.

Itu karena flu burung fatal. Sementara autisme dinilai tidak fatal, jadi kurang mendapat perhatian. Tapi ini kayak bom waktu yang mau meledak. Makin banyak, makin banyak, makin banyak dan akhirnya kita akan kehilangan generasi mendatang karena anak autisme dari lapisan bawah masyarakat tidak mendapat penanganan yang baik. Sekarang saya tidak tahu bagaimana jumlah orang dengan autisme, apakah 1:250, 1:200, 1:150. Saya tidak tahu. Belum pernah dilakukan survey mengenai banyaknya jumlah anak autisme di Indonesia. Itu karena harus dilakukan seperti sensus sehingga mahal sekali. Suatu kali kami pernah nekat, ok yayasan autisme mau kerja rodi mengadakan survey asal ada uangnya. Kami kemudian membuat proposal dan menghitung biaya untuk survey mendata anak autisme di lima wilayah Jakarta membutukan Rp 900 juta. Tidak ada yang mau memberikan uang ke kita Rp 900 juta sehingga tidak jadi.


Apa yang sudah dilakukan Departemen Kesehatan untuk autisme?

Mungkin belum terpikir ke sana karena seperti yang tadi saya katakan, di Indonesia itu masih lebih banyak sekali penyakit yang bisa berakibat fatal. Jadi kasus autisme yang dinilai tidak fatal kurang mendapat perhatian. Tapi seperti yang saya katakan tadi ini bom waktu karena jumlahnya makin tinggi.


Jika pembaca melihat anak-anak mereka ada gejala awal autisme, kemana mereka harus mencari informasi terlebih dahulu, terutama di daerah?

Informasi awal bisa membuka website YAI www.autisme.or.id. Di sana ada banyak informasi dan ada suatu kolom yang bisa menghubungi kami untuk tanya jawab. Jadi apa saja yang mereka tanyakan akan dijawab.


Apakah ada hotlinenya seandainya mereka menginginkan komunikasi secara langsung?

Belum, karena sumber daya manusia (SDM) YAI sedikit sekali karena ini yayasan sosial sehingga semua orang yang ada di situ tidak dibayar. Semua orang di YAI, orang sibuk. Jadi kami sangat kekurangan SDM.


Kita kembali ke masalah autisme. Saya ingin sedikit spesifik terutama tentang penyebabnya. Apa yang harus dihindari terutama bagi orang tua yang kira-kira mempunyai latar belakang sejarah keluarga autisme agar anak-anak mereka terhindar dari autisme?

Itu pertanyaan yang bagus sekali, kebetulan kami mau mengadakan autisme ekspo 26-27 April 2008 di gedung Sucofindo. Semoga menteri kesehatan mau membukanya. Di situ ada bazzar, pameran anak-anak autis, kemudian diisi pertunjukan anak-anak yang sudah mulai sembuh. Setelah itu seminar bergulir terus. Salah satu yang mau dibahas adalah bagaimana meminimalkan risiko pada kehamilan berikutnya setelah anak yang pertama terdiagnosa sebagai anak yang autisme. Jadi semua akan dibahas di situ, termasuk perkembangan otak janin, di mana bahayanya, dan sebagainya.


Jadi sangat kompleks masalah autisme ini. Apa rumah sakit di Jakarta yang bisa menjadi rujukan?

Di RSCM ada klinik tumbuh kembang di bagian psikiatri anaknya. Ada juga di RS MMC Kuningan, RS Omni Medical Center, RS Pondok Indah, RS Fatmawati. Jadi banyak rumah sakit besar yang sudah mempunyai klinik tumbuh kembang dimana bisa terdeteksi gejala-gejala autisme sejak dini.


Apa pesan Anda kepada pembaca untuk menghindari gejala dini autisme?

Kenali secara dini autisme. Jika ada gejalanya cepat-cepat ditangani dan jangan ditunda-tunda. Jangan berpandangan mungkin bisa bicara setelah empat tahun, jangan begitu. Saat melihat ada gejala dini harus segera ditangani karena kalau sudah sedini mungkin ditangani masih bisa kembali ke jalur perkembangan yang normal.**


sumber: http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/105-menanti-bom-waktu-autisme

Rabu, 26 Mei 2010

Nasib Sekolah Inklusi di Jakarta

Geliat sekolah inklusif tak hanya ramai di kota-kota besar. Dari data Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas, hampir semua propinsi di Indonesia telah mempunyai sekolah inklusif. Beberapa propinsi yang masih belum mempunyai sekolah inklusif salah satunya propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Secara keseluruhan pendirian sekolah inklusif memang masih didominasi propinsi-propinsi yang berada di Pulau Jawa.

Pendidikan untuk anak yang berkebutuhan khusus telah dicantumkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam kebijakan tersebut memberi warna baru bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Ditegaskan dalam pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. Di ibukota Jakarta, misalnya. Dari keterangan Kepala Seksi Pendidikan Luar Biasa (Kasi PLB) Dinas Pendidikan Dasar DKI Jakarta, sekolah inklusif telah diterapkan sejak tiga tahun lalu melalui payung hukum peraturan gubernur (pergub). Berdasarkan pergub inilah beberapa sekolah ditunjuk untuk membuka program inklusif

Namun sayangnya semangat dan wacana penyediaan fasilitas pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus sangat berbeda dengan pelaksanaannya. Dalam RAPBD 2010. Fenomena angka siswa yang mengalami hambatan belajar/kesulitan belajar karena Dislexia, ADHD (Atention Defisit Hiperaktif Disorder), ADD (Atention Difisit Disorder), dan Autis, yang angka pravelensi 10% dari total jumlah siswa, tidak diperhatikan oleh Dinas Pendidikan. Walaupun sudah ada Peraturan Gubernur No.116 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan Pendidikan Inklusi dalam Bab III pasal 4 bahwa penyelenggaraan pendidikan inklusi di setiap Kecamatan sekurang-kurangnya terdapat 3 (tiga) TK/RA, SD/MI, dan satu SMP/MTS dan disetiap Kota sekurang-kurangnya 3(tiga) SMU/SMK/MA/MAK. Prakteknya, di Jakarta Selatan yang memiliki 10 Kecamatan, hanya ada 3(tiga) SD Inklusi Negeri, seharusnya terdapat sekurang-kurangnya 30 SD/MI. Biaya yang dianggarkan untuk pendidikan inklusi di Dinas Pendidikan sebesar Rp.200.000.000,- untuk dana pendamping untuk 5(lima) SD model inklusi. Dan untuk tingkat Sudin Jakarta Pusat dianggarkan 50 juta untuk pembinaan guru inklusi sebanyak 60 orang, dan bimbingan teknis penyusunan KTSP, MBS, SLB Pendidikan Inklusi sebesar 50 juta. Dana pendidikan inklusi untuk seluruh wilayah DKI Jakarta kurang dari 2(dua) Milyar Rupiah. Terjawab sudah, mengapa implementasi Pergub no. 116 tahun 2007 tentang pendidikan Inklusi gagal. Kegagalan ini, menyebabkan 50.000-an anak berkebutuhan khusus yang seharusnya ditampung di Sekolah Inklusi, menjadi keleleran tak terurus. Bandingkan dengan pengadaan seragam guru (PDH dan ongkos jahit sebesar 12,119 Milyar rupiah.

Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah DKI Jakarta di sektor pendidikan inklusi. Semangat pendidikan untuk semua dan siapa saja seharusnya juga di terapkan dalam realita di lapangan.


sumbert: http://wandahamidah.blogdetik.com/2009/11/18/nasib-sekolah-inklusi-di-jakarta/


Anakku Mengidap Autis

(The Muse; Tonggo Simangunsong; 14 Agustus 2007)

kevin Nia (25) tak pernah menduga akan dikaruniai anak autis. Tapi apa daya, ia pun hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Hanya usaha yang bisa ia lakukan agar kelak putranya itu bisa hidup layaknya anak normal.

Kevin adalah adalah anak pertama pernikahan Nia dengan Anton Simbolon. Kini usianya beranjak 5 tahun. Kelainan pada bocah lelaki kelahiran Medan, 1 Oktober 2002 ini mulai nampak ketika ia berusia dua tahun. Di usia itu ia belum bisa bicara dengan jelas.

“Sebelumnya ia tampak normal. Responnya pun masih normal. Jika dipanggil misalnya, ia akan menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya itu,” kenang Nia perempuan berdarah Sunda itu.

Cara bicara Kevin yang lambat dan tidak jelas sebelumnya dianggap Nia dan keluarga hanyalah masalah keterlambatan pertumbuhan saja. Dan mereka yakin, Kevin pasti bisa berbicara layaknya anak normal seiring dengan pertumbuhan usianya nanti. Dan Kevin pun sempat mengikuti sekolah playgroup dengan sesama anak normal lainnya.

Namun hingga enam bulan kemudian, anggapan itu tenyata keliru. Kevin belum menampakkan perubahan. Bahkan, perilaku Kevin tampak semakin tidak seperti biasanya. Hal inilah yang akhirnya menyadarkan Nia bahwa ia perlu memeriksakan apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya itu.

Karena kurangnya informasi tentang kelainan Kevin, Nia kemudian membawa Kevin ke Bandung. Dokter pertama yang ditemuinya adalah dr Dadang Sharief (spesialias anak) yang mengatakan, Kevin mengalami masalah (gangguan) pada pencernaan.

Dugaan-dugaan diagnosa yang belum jelas tentang kelainan yang terjadi pada Kevin sempat membuat Nia bingung. Hingga akhirnya atas rujukan dr Dadang Syarif sendiri, Nia pun bertemu dengan dr Meli Budiman (Ketua Yayasan Autis Indonesia).

Kebetulan waktu itu dr Meli Budiman sedang berkunjung ke Bandung. Dan atas diagnosa sang dokter, Kevin dijelasakan positif mengidap autis. “Dokter langsung tahu setelah memeriksa tingkah laku Kevin,” jelas Nia. Dan menyarankan agar Kevin menjalani terapi rutin.

Sayangnya, Kevin hanya bisa menjalani terapi selama enam bulan karena terkendala masalah biaya. “Terus terang saya akui, sebagai orang tua yang masih muda, waktu itu kami masih belum mapan secara finansial dan pengalaman,” kata Nia.

Maka dengan terpaksa Nia pun kembali ke Medan dengan harapan mendapat dukungan dari orangtua dan keluarga. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Nia tidak mendapat respon dan dukungan dari mereka, yang bahkan tidak menerima kenyataan yang menimpa Kevin.

Meski demikian, Nia dan suami tidak menyerah. “Saya dan ayah Kevin berusaha berjuang sendiri tanpa ada dukungan dari pihak keluarga dengan usia yang masih muda, dengan keadaan yang belum mapan,” kata Nia.

Dengan keterbatasan itu, Nia pun merawat Kevin sendirian. “Selama satu tahun Kevin kami rawat di rumah, tanpa bimbingan medis,” katanya. Ibu muda ini hanya merawat anaknya dengan mengandalkan buku-buku dan video.

Hingga pada tahun berikutnya, Nia dan suami yang bekerja sebagai pegawai swasta, memutuskan agar Kevin kembali mengikuti terapi dan pendidikan di Yayasan YAKARI, yayasan khusus untuk penanganan bagi anak penderita autis di Kota Medan.

Meski demikian, tak banyak harapan Nia pada Kevin. Harapan yang hampir sama bagi ibu yang juga memiliki anak penderita autis, yang juga terjadi bagi Mama Yudha misalnya; juga orang tua lain yang menghadapi kondisi yang sama.

Harapan yang sangat sederhana sebenarnya. “Bisa mandiri saja sudah cukup,” pinta Nia. Kenyataanya, hingga kini Kevin masih kesulitan untuk makan sendiri, buang air kecil (besar) sendiri. Yang jelas, semuanya masih mengharapkan uluran tangan orang lain, meskipun untuk melakukan hal semudah apapun.

Semakin Sayang Karena Autis

Bagi Nia, menerima kenyataan memiliki anak menderita autis awalnya sangatlah tidak mudah. Apalagi Kevin adalah putra pertamanya dari perkawinan mudanya.

Rasa minder pun sering dialaminya. Tapi perasaan itu justru menyadarkannya bahwa ia harus menerima Kevin bagaimanapun ia adanya. “Sikap menerima adalah kunci ketabahan bagi setiap orangtua yang memiliki anak autis,” jelas Nia. Sikap yang pada awalnya sulit ia lakukan.

“Kalau bukan orangtua yang berusaha mendekatkan diri, maka semakin sulit bagi penderita autis untuk hidup berkembang seperti yang diharapkan,” katanya.

Nia pun mengaku semakin sadar akan makna cinta sesungguhnya. Juga semakin sadar bahwa anak adalah titipan Tuhan yang bagaimanapun ia adanya haruslah dijaga dan dibesarkan dengan ikhlas. Bahkan dengan rasa syukur.

“Jika Kevin tidak menderita autis, mungkin cinta saya tidak sebesar ini. Jika Kevin tumbuh normal, mungkin saya tidak akan merasakan kebahagiaan yang pasti tidak dirasakan orangtua lain,” tambahnya.

Kebahagiaan orangtua yang memiliki anak autis seperti Nia memang berbeda dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh orangtua yang memiliki anak normal.

Nia mengaku akan bahagia jika misalanya, Kevin menunjukkan ekspresinya ketika dipanggil oleh ibunya; jika ia berbicara dengan baik atau ketika anaknya itu mampu melakukan hal lain yang bisa dilakukan anak normal, meski tak banyak.

“Mungkin kedengaran biasa saja bagi orang lain. Tapi itulah kebagiaan saya sebagai orang tua yang memiliki anak pengidap autis,” katanya dengan raut wajah sedih.

Pengalaman itu sekaligus membuat ia semakin sayang kepada Kevin. “Saya dan suami akan merawatnya semampu kami. Apa pun akan kami lakukan demi Kevin. Sebab inilah tanggungjawab kami sebagai orangtua.” Tak terasa matanya tampak basah memerah.

Orangtua, Terapis Autis Sesungguhnya

Apakah autis bisa disembuhkan? Semua orangtua seperti Nia pasti mengharapkan jawaban yang sama, yaitu: ya. Ini pulalah yang menjadi dasar keyakinan mereka sehingga berbagai upaya pun mereka tempuh.

Penanganan autis sejauh ini dilakukan dengan terapi, seperti terapi perilaku, wicara dan sensori (okupasi). Upaya lain adalah mencari gangguan metabolisme yang mungkin menjadi menjadi faktor pencetus gejala autis. Dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan darah, faecus, urine dan rambut (terapi biomedis).

Inilah upaya yang juga dilakukan YAKARI sejauh ini. Namun Arief Budi Santoso, konsultan pendidikan di yayasan itu mengatakan, berhasil tidaknya upaya itu tak lepas dari peran orangtua sendiri. Sebab orangtualah orang yang terdekat dengan anaknya.

Arief menjelaskan contoh kasus yang pernah dialami Catherine Maurice, seorang ibu yang memiliki tiga anak yang sama-sama mengidap autis. Seorang ibu yang terbilang berhasil hingga bukunya (“Let Me Hear Your Voice”), banyak menjadi acuan terapi bagi seluruh orangtua yang memiliki anak autis di seluruh dunia. “Catherine telah membuktikannya, “jelas Arief.

Penyebab autis

Sejauh ini penyebab autis dipastikan terjadi karena faktor genetik. Namun meskipun anak membawa predisposisi genetik, bila tidak ada faktor pencetus dari luar, diperkirakan gejala autis tidak timbul.

Selain itu adalah faktor pencetus sebelum kelahiran, seperti keracunan logam berat, terkena infeksi virus rubella, CMV, toxoplasma, jamur. Juga dikarenakan ibu memakan obat-obatan keras terutama pada saat trimester pertama masa kehamilan. Hal ini bisa mengganggu struktur susunan syaraf pusat janin sehingga anak akan menunjukkan gejala autis sejak akhir.

Autis juga muncul akibat faktor pencetus setelah kelahiran. Hal ini bisa disebabkan oleh terjadinya infeksi virus, jamur atau bakteri, terutama dalam usus. Adanya gangguan pencernaan yang menyebabkan berbagai macam alergi makanan, keracunan logam berat, seperti pB, Hg, As, dan Sb. Akibatnya, terjadi gangguan kekebalan tubuh (imunodefisiensi) sehingga anak sering sakit.

Juga diakibatkan banyaknya exorphin (casomorphin dan gliadorphin) yaitu protein yang berasal dari casein (susu sapi) dan gluten (tepung terigu) yang tidak dapat dicerna anak. Sehingga memberikan efek seperti morphin. Untuk diketahui, fungsi otak yang dipengaruhi morphin adalah bidang prilaku, perhatian, kecerdasan dan emosi.

Bila hal ini terjadi, maka munculah apa yang disebut autis regresif. Gejalanya bermacam-macam. Ketika anak sudah sempat berkembang normal, tapi kemudian terjadi kemunduran pada umur 18-24 bulan. Bahkan, perkembangannya bisa terhenti.

Gejala lain adalah, apa yang telah dipelajari dan dikuasai si anak menghilang perlahan-lahan. Misalnya, anak sudah mampu berbicara, tapi kemudian kemampuan bicara itu hilang disertai dengan munculnya gejala-gejala autis. Gejala ini terlihat dari prilakunya yang tidak normal.

sumber: http://tonggo.wordpress.com/2007/08/30/anakku-mengidap-autis/